TPA Al-Barokah , sebuah TPA sederhana yang didirikan oleh seseorang yang sederhana dengan keinginan yang sederhana. Sederhana ? sepertinya kata itu tidak tepat untuk menggambarkan tujuan dari keinginannya itu.Bagaimana bisa dibilang sederhana sedangkan tujuan dari keinginnya itu menyangkut kelangsungan generasi-generasi mendatang. Bagaimana bisa disebut sederhana, jika tujuannya adalah membekali generasi-generasi kita. Keinginan seperti itu bukan keinginan yang sederhana. Meskipun kita semua punya harapan yang sama pada generasi-generasi kita. Tapi pertanyaannya, apa tindakan yang sudah kita lakukan?.
Tapi beliau dengan segala kesederhanaannya mencoba untuk melakukan sesuatu yang bisa beliau lakukan. Berbekal sedikit ilmu yang beliau dapatkan dengan perjuangan ayahnya (kakek saya), beliau mencoba untuk memberikan bekal kepada anak-anak yang ada di desa saya. Yang mana sekarang kondisinya tidak seperti dulu lagi. Jaman sudah berkembang, teknologi sudah maju. Anak-anak yang sebagian besar dan hampir semuanya lebih tertarik main game atau gadget dari pada main bersama teman sebaya dan kemudian berangkat ke mushola bersama-sama dan ngaji sama-sama.
Mana ada sekarang kebersamaan seperti itu, kebersamaan yang penuh dengan canda tawa dan kadang bertengkar kemudian baikan lagi. Sekarang sekali bertengkar , maka akan menjadi dendam yang akan mengakar. Sungguh, dimana hilangnya semua masa kecil yang dulu pernah saya alami. Sekarang bahkan aku tidak pernah melihat hal yang sama di desa saya. Tempat yang dulu menjadi tempat berkumpul dan bermain bersama teman-teman saya, kini pun tak lagi terjamah oleh kaki mereka.
Dulu, sebelum berdirinya TPA Al-Barokah itu hanyalah sebuah rumah kecil yang dibangun dan ditinggali oleh beliau dan istrinya. Selayaknya orang yang sudah berumah tangga maka beliau juga membangun sebuah rumah untuk keluarga kecilnya. Bukan rumah yang berdiri dengan tembok dengan segala fasilitas yang lengkap, hanya sebuah rumah dari kayu dan beralaskan tanah dengan dapur yang kecil disampingnya. Tapi rumah itu begitu nyaman, begitu teduh dan sejuk jika berada di dalamnya.
Entah sejak kapan persisnya rumah itu menjadi tempat mengaji anak-anak di desa saya waktu itu. Sebenarnya bukan hanya di rumah belliau saja, bahkan di rumah yang lain juga ada. Rumah itu tepat di depan rumah kakek saya dan saya ini adalah keponakannya yang selalu dijaga sejak kecil. Tapi jujur, bukan saya orang yang pertama kali belajar mengaji di sana. Bahkan saya tidak ada keinginan sedikitpun untuk ikut belajar disana waktu itu. Rumah sederhana, belum ada listrik di desa kami waktu itu. Hanya menggunakan lampu minyak, yang kalau kita deket-deket hidungnya jadi hitam karena asap dari lampunya. Ada petromax pun digunakan hanya jika ada acara-acara tertentu, dan itu adalah hal yang menyenangkan untuk saya karena semua menjadi terang benderang. Hingga tiba saatnya saya disuruh untuk bergabung dengan mereka. Dengan sedikit berat hati saya pun ikut dan belajar. Pertama kali saya ikut belajar, saya nangis karena saya gak mau sebenarnya tapi dipaksa. Padahal, beliau adalah om saya sendiri. Tapi saya takut dengan beliau, karena beliau memang sedikit keras orangnya. Apalagi menyangkut agama dan yang berhubungan dengan hal tersebut.
Singkat cerita, entah kenapa hari-hari berikutnya justru saya semangat untuk mengaji. Jaman dulu siapa yang datang duluan dia orang pertama yang ngaji duluan. Karena saya tinggalnya di depan rumah beliau otomatis saya pasti duluan. Tapi coba bayangkan, walaupun saya deket jam 4 sore saya sudah harus naruh mukena di rumah beliau, sebagai tanda bahwa saya murid yang datang duluan. Karena anak-anak yang lain berangkat dari rumah pun jam 4 / setengah 5. Padahal, kita mulai mengaji itu setelah sholat maghrib. Nah, disinilah kebersamaan itu terasa. Kita semua sudah berkumpul sebelum adzan maghrib. Kita bisa bermain dulu dan bercanda sama-sama, walaupun kadang ujung-ujungnya berantem. Tapi itulan indahnya, besoknya juga baikan lagi dan diulangi lagi. Kadang beliau jadi pusing juga karena itu, soalnya gak semua orang tua memahami keadaan seperti itu. Dulu, mengaji itu menenyenangkan dan bahkan kecewa kalau tidak bisa berangkat. Tapi mungkin sekarang berbeda.
Tahun demi tahun berlalu, saya pun sudah menjadi alumni dari rumah sederhana yang penuh kenangan menyenangkan itu. Rumah sederhana itu sedikit demi sedikit diperbaiki dan ditambah ruangan. Sampai pada akhirnya berdirilah TPA Al-Barokah. Bukan di rumah sederhana lagi ya, tapi memang masih dalam satu tempat tinggal. Namun sudah punya ruangan sendiri, jadi sekarang saya menyebutnya dengan TPA sederhana. Saya tidak tahu latar belakang berdirinya TPA tersebut. Yang saya tahu adalah semangat para warga yang turut mendukung berdirinya TPA tersebut. Dulu masih banyak orang yang memakai rumahnya untu tempat belajar mengaji, tapi pada akhirnya semua itu berhenti. Dan TPA ini menjadi salah satu solusi untuk mereka yang masih pengen anaknya belajar mengaji.
Oke, seiring berkembangnya jaman dan teknologi tentu fasilitasnya juga sudah lebih baik dibandingkan dengan jaman saya dulu. Dulu beralaskan tiker diatas tanah, tanahnya pun yang mengambil adalah para murid yang bekerja bakti setiap minggu demi kenyamanan belajar mengaji. Beda dengan sekarang, semua sudah lebih baik walaupun masih sederhan. Tapi sayangnya, semangat mereka sekarang berbeda dengan semangat kami pada jaman dulu. Entah ini pendapat saya saja atau memang pada kenyataannya seperti itu. Mereka hanya datang dan mengaji kemudian pulang tanpa ada kesan apa-apa. Padahal nich ya, jaman saya dulu beliau masih keras banget ngajarnya alias galak. Sekarang sich gak, bagaimana mau galak, dibentak satu kali besoknya pasti udah gak berangkat. Anak-anak jaman sekarang mentalnya manja. Makannya beliau sekarang lebih lunak, karena beliau ingin anak-anak tetap mau belajar mengaji.Karena itu adalah sebuah dasar bagi generasi muda, apalagi pada jaman yang sudah makin semprawut ini.
Semoga Allah selalu memberkahi beliau, menjaga beliau dan memudahkan segala keinginan beliau. Satu mimpi sederhana saya, ada pesantren sederhana yang menghasilkan generasi luar biasa di desa itu. Desa dimana saya lahir dan tumbuh besar di sana. Saya tidak akan pernah lupa itu, meskipun suatu saat nanti mungkin saya tidak tinggal di sana. Semoga TPA Al-Barokah akan terus mendapat dukungan masyarakat, dewan desa dan pejabat daerah setempat. Pesan bagi adik-adik yang belajar di sana, belajarlah denga hati yang gembira dan semangat.
Saya ingin menyanyikan lagu wajib yang selalu dinyanyikan para santri dari jaman saya dulu hingga saat ini. Hanya ini yang masih sama hehehe, saya gak tahu lagu ini disebut sebagai apa. Tapi saya ingin menyebutnya sebagai "Hymne Santri".
Kamilah santri TK Al-Qur'an
Rajin belajar giat bekerja
Qur'an ditangan jadi pedoman
Kita sambut kebangkitan Islam
Bila kau selalu dengan Al-Qur'an
Hidupmu pasti akan bahagia
Hidup di dunia damai sejahtera
Diakhirat mendapat syurga
Bila kau jauh dari Al-Qur'an
Hidup laksana dalam gulita
Tiada pedoman tak tentu arah
Dunia akhirat mendapat siksa
Harusnya hymne santri itu bisa menjadi penyulut semangat untuk semua adik-adik. Meskipun kakak-kakak alumni ini juga belum bisa menjadi orang yang baik, semoga adik-adik kelak bisa menjadi generasi penerus yang bisa membawa perubahan untuk bangsa kita Indonesia. Dimulai dari hal kecil dan sederhana terciptalah sesuatu yang besar dan luar biasa. Mungkin cukup sekian dulu, sebenarnya jika diceritakan akan sangat banyak yang ingin diceritakan. Terima kasih untuk para pembaca, mohon do'anya semoga TPA sederhana yang dikelola om saya bisa membawa manfaat besar bagi banyak orang.
TPA Al-Barokah
Desa Kalimati Rt.15/Rw.03
Kec. Juwanngi
Kab. Boyolai 57391
Pengurus : Bapak Sunawadi dan rekan-rekan